You are looking at posts that were written in the month of May in the year 2006.
John Chendra; father of Japheth Adriel & Jared Ezekiel, husband of Yenni. A learning Human Being who is interested in Information Technology: Internet, Multimedia, System Administration and Security.. And nowadays: Finance & Accounting! :)
Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewal of your mind, that by testing you may discern what is the will of God, what is good and acceptable and perfect. (Romans 12:2, ESV)
| S | M | T | W | T | F | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | Jun » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
Posted on May 20th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.
Bukan, bukan dia..
Posting ini saya tulis sejak 15 Mei yang lalu, tapi baru sempat diselesaikan dan dipublish hari ini. Moga-moga belum terlalu BasBang!
Makassar sudah kembali seperti sedia kala. Mungkin masih cukup berat, tapi mestinya sudah normal kembali. Memang masih ada perasaan risih, apalagi ketika ada orang-orang chinese yang berpapasan, lewat, dan mondar-mandir di tengah keramaian dan bertemu dengan orang-orang non-chinese. Entah hanya perasaan saya atau memang demikian adanya, tapi situasi sudah berangsur normal dalam dua-tiga hari terakhir ini. Ekonomi sudah bangun lagi, semua sudah seperti sedia kalaâ„¢
Satu hal yang saya selalu diskusikan bersama keluarga, apa sih, dan bagaimana sih sebenarnya bentuk ideal dari ‘pembauran’ itu sendiri. Apakah karena perbedaan warna kulit semua harus berbeda? Dewasa ini sudah banyak orang non-chinese yang berperilaku sangat chinese, sementara orang chinese yang berperilaku sangat non-chinese. Dalam keseharian pun, ketika isu rusuh dan ganyang muncul, rekan-rekan yang non-chinese turut merasakan dampak dengan tutupnya ratusan toko dan mencekamnya suasana kota. Itulah indahnya keberagaman, ketika semua turut merasakan apa yang dirasakan oleh sebagian. Semoga ini disadari semua pihak, daripada saling sikut, mending saling sayang.
Di sisi orang chinese sendiri, orang chinese harus belajar untuk ‘turun’ (entah apa istilah yang tepat). Kerjakan berbagai bidang yang dahulu tidak disentuh orang-orang chinese. Jadilah polisi, politisi, pengacara, tentara, PNS, atau profesi/pekerjaan lainnya. Belakangan ini fenomena seperti ini sudah mulai tampak. Sudah ada pegawai-pegawai supermarket, teknisi, bahkan PNS yang chinese. Khususnya untuk Makassar, hal ini sangat penting. Sebab sangat jarang orang chinese di Makassar yang terjun dalam bidang lain selain berdagang. Guru misalnya, sangat jarang guru chinese di sini. Di 10 sekolah negeri yang menjadi klien kami di kantor, tak ada satupun gurunya yang berlatar chinese. Ini mungkin juga disebabkan umumnya guru di sekolah negeri itu adalah PNS. Tak usah jauh-jauh, di sekolah tempat istri saya mengajar, yang notebene adalah sekolah Kristen, yang Yayasannya adalah dari salah satu Gereja berlatar Tionghoa terbesar di Makassar, jumlah guru yang chinese dapat dihitung dengan jari. Itupun ada yang guru bahasa Mandarin. Situasi yang sangat berbeda dengan kampung halaman istri saya. Di Bangka, menurut cerita istri saya, pembauran lebih terasa. Tidak sedikit jumlah orang chinese yang menjadi guru, pegawai, tukang, bahkan ada yang menjadi pembantu rumah tangga.
Seharusnya, orang chinese turut berjuang bersama seluruh golongan masyarakat, tidak ekslusif sendiri dan melihat suku lain dengan sebelah mata. Memang setiap suku punya rasa kebanggaan tersendiri (chauvinisme KTS), tidak usah dipungkiri. Tapi justru ketika kita berusaha meminimalkan kebanggaan itu, maka kita akan menjadi orang yang lebih rendah hati, lebih dapat diterima oleh semua pihak. Daripada semua menonjol dan akhirnya bertengkar, lebih baik semua saling hormat dan akhirnya semua senang.
Posted on May 12th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.
Seletah berkomentar di weblog Rara, jadi tergugah untuk nulis dikit.
Mahasiswa. Kebanyakan (kalau tidak mau dikatakan semua) aksi bernuansa SARA atas nama demonstrasi dua tiga hari ini di Makassar, semua dilakukan oleh Mahasiswa. Bukan orang yang mengaku sebagai mahasiswa, tapi memang mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di Makassar. Mereka yang mulai dari berorasi, hingga konvoi dan melakukan sweeping atas nama demonstrasi. Kata-kata seperti ada pelanggaran HAM-lah, penegakan Hukum-lah, keadilanlah.. Semua itu mereka pakai untuk membenarkan tindakan mereka.
Yang mengerikan, inilah, para rasis inilah masa depan kita. Apa jadinya Makassar dalam 10 tahun ke depan? 20 tahun ke depan? Inilah wajahnya, dalam wajah-wajah para perusuh intelektual saat ini. Sedih.
Saya sebagai orang tua, kemudian bertanya-tanya, inikah masa depan anak saya? Tidak heran beribu orang yang lari keluar dari Indonesia, bersusah payah di negeri orang, agar bisa lolos dari masa depan yang suram ini. Sebagai orang tua juga, saya jadi bertanya, bagaimana sih sesungguhnya pendidikan di Indonesia? Tidak heran beribu orang berusaha menyekolahkan anak-anak mereka di luar negeri. Mungkin saya berpikir terlalu jauh, sedikit paranoid dan mengada-ada. Saya pikir, ini semua ekses dari kekesalan dan kecemasan akibat situasi Makassar sekarang.
Kota Makassar hari ini, lagi-lagi mati. Sejak pagi hingga siang ini, minimal Jl. Somba Opu di sekitar rumah saya, sangat sunyi. Tidak seperti biasa. Toko-toko umumnya tutup, atau buka MMK, lalu lintas sepi, puluhan polisi berjaga-jaga dan akhirnya menjadi warga Somba Opu dadakan. Lagi-lagi ekonomi hari ini mati dan tidak bergairah. Sayapun akhirnya tidak ke kantor, sebab kekuatiran hari Jumat ini lebih parah dari hari lain. Sampai kapan? Minggu juga dicurigai, Senin.. Mungkin hari senin situasi sudah tenang kembali. Tapi, lagi-lagi mungkin. Mungkin juga mereka belum puas kalo belum ada darah sebagai bayaran? atau api yang membakar? atau ribuan kaca yang pecah? Entah.
Anyway, terima kasih untuk komentar teman-teman di weblog saya ini. Mudah-mudahan saya makin rajin dengan adanya kunjungan dari semua.
Posted on May 11th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.
Sedih rasanya, belum selesai juga orang-orang bodoh itu merusak Makassar. Berita resminya masih saya tunggu di televisi atau radio. Saya lihat di tv tadi berita yang dibahas masih seputar Iran, PBB, Amerika, dan seterusnya. Mungkin saya kurang pagi nontonnya..
Informasi dari rekan sesama guru istri saya (mereka adalah guru-guru TK/SD saya ketika masih bersekolah di situ), semalam terjadi ’sweeping’ yang menahan bukan saja orang chinese yang kemudian dipukuli (suami-istri, naik Karimun katanya), tapi juga sudah mulai mencari orang yang beragama Kristen. Seperti dugaan saya, isunya pasti akan bergeser ke Kristen dan agama. Mungkin sebentar lagi gereja akan jadi sasaran seperti 97 yang lalu. Atau mungkin tidak? Sebab biasanya gereja sudah dijagai oleh beberapa tentara. Entahlah. Kejadian tersebut berlangsung di depan mata ibu guru itu sendiri, sekitar pukul 18.30 atau 19.00 WITA kemarin, 10 Mei 2006, di daerah depan kampus salah satu universitas yang mahasiswanya berdemo.
Saat ini, suasana jalan sendiri cukup sepi, minimal di daerah tempat saya tinggal, yang kemarin dijagai oleh satu truk aparat polisi/brimob. Entah bagaimana ekonomi hari ini, sepertinya akan tutup toko lagi. Istri saya menyarankan agar saya tidak usah ke kantor, berhubung daerah kantor saya yang berada di daerah yang cukup dekat dengan lokasi demonstrasi. Bukan takut pada orang-orang di sana, tapi justru kengeriannya ada ketika dalam perjalanan ke dan dari sana.
Yang lain, informasi dari murid-murid sekolah, termasuk orang tua mereka. Banyak murid SD di mana istri saya mengajar tidak masuk sekolah hari ini. Katanya kemarin banyak yang rumahnya menjadi korban lemparan. Utamanya mereka yang tinggal di Jl. Veteran dan Jl. Dr. Ratulangi. Ternyata berita yang beredar kemarin tentang ada ‘beberapa’ rumah yang kena lempar, tidak sepenuhnya benar, ternyata ‘banyak sekali’ rumah yang kena lempar. Salah satu murid yang cukup dekat dengan istri saya menjadi korban dan menginformasikan/mengkonfirmasikan hal ini.
Lucu, dan mungkin anda sudah bosan dengan keluhan kami. Maaf kalau terkesan SARA juga, tapi begitu banyak orang pribumi dan/atau beragama Islam lain yang bertindak kriminal kepada orang-orang non-pribumi, bahkan kepada orang pribumi sendiri, mengapa tidak mendemo/menghina/memaki/mengancam/melempari/memukuli orang pribumi yang lain juga? Apa ini kalau bukan diskriminasi? rasisme?
Coba taruh diri anda dalam sepatu kami. Berpuluh ribu orang keturunan yang mencoba untuk beradaptasi dan menjadi Indonesia sesungguhnya, akankah semuanya sia-sia lagi? Entah apa lagi yang harus saya tulis, sebab dengan menulis seperti itu, terkesan sebelumnya kami ini bukan orang Indonesia, padahal kami lahir dan mati di negeri ini. Benar-benar mengesalkan.
Posted on May 11th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.
Judul di atas sepertinya rada pesimis, tapi sesungguhnya saya ingin menjadi sangat optimis dengan keadaan Makassar saat ini. Syukur, tidak ada yang buruk terjadi hari ini, dalam waktu yang saya dan keluarga lewati, hanya ada satu kalo konvoi yang cukup mengesalkan yang meneriakkan kata-kata yang tidak nyaman dan bernada mengancam. Apalagi disertai dengan kelakuan peserta konvoi yang membawa pentungan, batu, dan berbagai peralatan tempur lainnya.
Terlaporkan ada beberapa rumah yang kacanya pecah karena menjadi sasaran lemparan oleh peserta konvoi tersebut, walaupun tentu saja tidak bisa saya konfirmasikan sendiri, sebab berita itu hanya selentingan saja dan beredar dari mulut ke mulut.
Yang terakhir, ada informasi dari salah satu aparat yang berbelanja di toko kami malam tadi, kabarnya akan ada pergerakan yang perlu diwaspadai pada hari Jumat (12/5) yang akan datang. Seperti biasa, isu-isu SARA semacam ini juga berasumsi bahwa bagi umat Muslim, tindakan ‘perang’ pada hari Jumat itu justru berpahala lebih besar.. atau semacam itu. Ah, namanya juga isu, semoga tidak ada yang tersinggung dengan posting saya ini, bahkan saya malah ingin minta pendapat dari teman-teman Muslim, bener ‘gak tuh?
Malam ini sih Makassar sudah agak hidup lagi, sudah ramai dengan lalu lintas kendaraan (minimal sampai sekitar jam 9 malam tadi ketika toko kami hampir tutup). Bahkan pembalap-pembalap liar yang biasanya sangat mengganggu Jalan Somba Opu di malam hari, sudah mulai ada. Padahal kemarin, satupun tidak ada. Sepertinya ketegangan di Makassar sudah mulai reda, terima kasih untuk usaha dari berbagai pihak, utamanya para pemimpin kami di daerah ini.
Good night, thank you for reading. Let’s hope for a better tomorrow.
Posted on May 9th, 2006 by john.
Categories: General, work.
Bukan, bukan mengenai buku yang bisa lari sendiri..
Kemarin saya berkesempatan untuk jalan-jalan di Gramedia Mal Ratu Indah Makassar. Tak disangka, ketemu satu buku yang sangat menarik:![]()
Ini buku terbaru(?) dari Bapak Perjuangan Internet Indonesia (julukan dari saya sendiri.. mohon maap bila salah
), Onno W. Purbo. Sangat menarik, sebab selain berhubungan dengan kerjaan saya sehari-hari di kantor (apalagi Motorola Canopy diberi jatah satu bab khusus
), buku ini juga memuat sejarah dan visi dari pak Onno untuk internet Indonesia, selain tentunya berbagai pengalaman, tips, trik dan tutorial untuk aplikasi Wireless.
Buku tercepat? Iya, mungkin ini buku yang paling cepat saya ‘habiskan’ sampai sejauh ini. Biasanya, buku seperti ini akan saya cicil baca (jika benar-benar ada waktu atau jika sedang menunggu sesuatu di toilet
-maaf beribu maaf). Tapi kali ini, buku ini saya hampir habiskan dalam waktu 2-2,5 jam saja. Ini dimungkinkan karena pas jam 12 malam kemarin, lampu di rumah saya (dan tetangga-tetangga saya) mati selama 2 jam
Jadi dengan berbekal lampu emergency sekenanya, jadilah saya mengisi waktu mati lampu sambil mengipasi anak yang gelisah karena kepanasan, sambil membaca buku ini.
Cuma mau bilang itu kok
btw blog ini udah lama gak saya update.. sekali update.. eh udah 4 posting aja…
I guess I’m a little bawel today
Posted on May 9th, 2006 by john.
Categories: personal.
Ah, pakai Bahasa Indonesia ajalah
Suasana horor masih terasa di Makassar, apalagi dikonfirmasi dengan berita di Metro TV bahwa ada kumpulan massa malam ini di Jl. G. Latimojong, dimana kejadian pembunuhan terjadi. Yang ditakutkan adalah seperti pada tahun 1997, dimana kerusuhan terjadi mulai malam hari, hingga pagi hari keesokan harinya dimana banyak rumah di Jl. Sulawesi yang terbakar.
Yang perlu dikritik adalah Metro TV, yang dalam liputannya yang sangat baik, melakukan kesalahan cukup fatal. Di segmen berita yang menginformasikan bahwa toko-toko di Makassar umumnya tutup sejak siang hari, diberitakan bahwa toko-toko yang tutup berada di Jl. G. Latimojong (Jalan TKP). Padahal gambar/video yang diperlihatkan adalah suasana Jl. Somba Opu (sekitar rumah saya
). Sepertinya kru Metro TV ikutan tegang sampai salah memberi informasl.
Berita dari objek penderita (saya sendiri -Red), bukan hanya toko-toko di Jl. G. Latimojong saja yang tutup. Hampir semua toko di Makassar tutup, bahkan toko-toko yang pemiliknya bukan keturunan Cina-pun ikutan tutup (tetangga saya salah satunya). Tadi siang saya sempat berkendara melintasi Jl. Sulawesi dan sekitarnya. Daerah ini, seperti Jl. Somba Opu juga adalah bagian China Town kota Makassar. Semua toko di daerah-daerah ini sudah tutup sejak siang tadi (sekitar pk. 15.00 atau 14.00 WITA). Perkiraan saya, bahkan toko-toko di daerah lain seperti Jl. Veteran dan daerah Jl. Pettarani juga pasti sudah tutup sehubungan dengan cepatnya informasi seperti ini beredar di kalangan pedagang.
So.. hari ini Makassar ‘tidur’ lebih cepat dari biasanya.. Moga-moga tidak ada kejutan di tengah malam.
For you Christians out there, and also for everyone who cares.. please pray for us and this city.
Posted on May 9th, 2006 by john.
Categories: personal.
Right about now.. The rumors said, there’s a housekeeper (pembantu) (or two?) murdered last night by their employer who is happen to be a Chinese man. This causes a big horror among the Chinese people in Makassar, and surely bring horror to almost everyone in the city, including non-chinese. A friend just called me (non-chinese office friend) and informed that one of our friend at work was stopped in the street because he was suspected a chinese. Don’t know what would happen if He _IS_ a chinese man. Thank God he’s not.
This bring back the fear that has twice put Makassar in a terrible condition. The last one was in 1997, after a child murder by a crazy chinese man. Back in 97, a lot of houses and Buddhist/KongHuCu temples burnt down and many chinese people murdered and raped. My house also got a piece of it, a big stone that went through my house’s glass window…
I don’t care for the politics or racism views (as my “Human Virus” told me, I should stop caring), but I’m imagining the bad economy condition that will once again struck Makassar down if there’s a riot this time. This is just stupid.
To those who’s too stupid to figure things out, and are involved in such stupid activities.. What difference are you than the NAZI’s?
still learning english and typing it fast…