Mengapa saya benci Musik Sahur

Posted on August 15th, 2010 by john.
Categories: faith, Makassar, personal, stupid things.

Pengacau itu bernama: MUSIK SAHUR dan kembarannya: PETASAN. Protes saya ini lebih terarah ke musik sahur, tapi karena karakteristiknya mirip, maka petasan juga sama menjengkelkannya. Alasan utama kebencian saya sebenarnya simpel, karena kami (khususnya anak-anak) sangat terganggu dengan kebisingan di tengah malam, membuat kami sulit tidur dan akhirnya anak-anak bisa terlambat ke sekolah. Saya berusaha mengerti, apa sebenarnya tujuan musik ini, berbagai rasionalisasi hadir, tapi terbantahkan dengan berbagai argumentasi yang saya jelaskan di bawah. Akhirnya membuat saya sadar, tak ada gunanya mentoleransi, lebih baik sekalian benci daripada makan hati :P *ala lagu melankolis*

Tahun ini, baru hari ke-3 puasa, ramainya sudah tak ketulungan. Makin hari makin cepat mulainya (hari sabtu ini mulai sekitar pk. 22.00 malam), dan makin lama makin kacau lagunya. Apa sih tujuannya? Membangunkan orang untuk sahur? Saya tidak percaya. Ini alasannya:

  1. Waktu. Mengapa harus mulai secepat itu? Bukankah agar bisa bangun dengan segar atau ‘cukup tidur’, maka seseorang yang ingin sahur justru harus tidur LEBIH CEPAT dan NYENYAK? Musik tengah malam ini justru mengganggu, tidak saja mereka yang tidak puasa, tapi juga SANGAT MENGGANGGU ORANG YANG BERENCANA PUASA keesokan harinya. Jadi, kapan waktu yang tepat untuk Musik Sahur? pk. 12 malam? 01 dini hari? 02? 03? Sesungguhnya tak ada waktu yang tepat. Pukul 03.30 sekalipun, bila para penyanyi itu akan bersahur juga, mereka seharusnya berhenti menyanyi dan pulang ke rumah untuk bersiap-siap sahur.
  2. Kegaduhan. Bulan ini bulan SUCI dan penuh BERKAH. Mana korelasi antara SUCI/BERKAH dan GADUH? SUCI/BERKAH dan ONAR? SUCI/BERKAH dan BISING? Tunjukkan pada saya hubungan itu, maka musik dan petasan itu menjadi masuk akal. Apakah tidak ada cara lain membangunkan orang sahur selain bermusik dengan desibel tinggi di tengah malam? Apa yang terjadi pada jam weker? Apa tak cukup dengan panggilan untuk sahur dari mesjid dan mushola terdekat?
  3. Musik dan Lagunya. Saya tidak mendengar satupun lagu dan musik yang dinyanyikan itu berhubungan dengan bulan Ramadhan. Yang dinyanyikan adalah melulu lagu-lagu dangdut yang isinya: patah hati, kangen pacar, jatuh cinta, aku dan kamu, indahnya cinta, hepi-hepi, hingga keong racun. Pun bila lagunya berhubungan, apakah semua orang senang dengan musik sekeras itu? Bicara soal selera lain lagi. Masalahnya ini bukan musik yang statis pada satu lokasi, tapi musik yang diarak keliling kota. Tak semua orang yang terpaksa mendengar satu selera dengan mereka yang memutar/menyanyi.
  4. Siapa yang dibangunkan? Siapa yang perlu bangun pukul 11/12 malam? 1/2/3 dini hari? Setahu saya, yang bangun secepat itu hanya para hansip dan mereka yang MEMPERSIAPKAN sahur. Jadi, kegaduhan ini hanya efektif untuk sebagian kecil orang yang ada dalam rumah. Itupun bila santapan sahurnya memang rumit dan butuh waktu lama untuk persiapannya. Bila satu keluarga berisi 5 orang, maka paling banyak hanya 1 orang (ibu) yang bangun lebih cepat mempersiapkan sahur. Yang lain? ngapain begadang berjam-jam hanya untuk menunggu sahur? Bukankah salah satu tujuan puasa itu melatih diri? Saya pikir salah satunya adalah untuk melatih diri untuk bangun tepat waktu.
  5. Tujuan Puasa yang mulia. Dengan membuat mereka yang tak puasa marah dan jengkel SETIAP malam, maka sesungguhnya para pegaduh itu telah kehilangan tujuan yang mulia dari puasa. Ngapain berpuasa seharian mengejar pahala bila pada akhirnya pahala itu hangus akibat makian dari mereka yang dirugikan? Tolonglah! Kasihanilah anak-anak kami yang butuh tidur. Tanpa bermaksud menyamakan, tetapi mirip dengan tindakan pelarangan, penggrebekan dan penutupan yang marak pada bulan puasa, maka sesungguhnya bangun subuh untuk sahur juga adalah tantangan dalam berpuasa. Nah kalau tantangannya semua dihilangkan (dalam hal ini dengan cara ‘pembangunan’ massal dengan musik bising), apa yang disebut puasa? hanya menahan lapar sajakah?

Kesimpulan saya yang kurang ajar adalah, para pedangdut tengah malam itu justru curang. Mereka sengaja ‘bekerja’ pada tengah malam dengan alasan suci membangunkan orang untuk sahur, hanya agar mereka kelelahan sehabis sahur dan tidur pulas seharian dan bangun kembali ketika dekat saatnya berbuka puasa.. dapet uang pula. Konon kabarnya mereka berkeliling selain menyanyi, juga mengumpulkan sumbangan.

Coba bayangkan bila umat lain, pada hari rayanya memutar musik keras-keras di TENGAH MALAM lalu putar-putar keliling kota setiap malam selama sebulan penuh. Jangankan dapat surat pembaca, besok harinya, rumah ibadah mereka pasti sudah didemo dan/atau ditutup massa.

Sesungguhnya saudaraku, saya tak membenci bulan Ramadhan. Saya malah sangat menyukainya, sebab minimal pada siang hari, tak ada asap rokok di sekitar saya..:) Saya pada akhirnya mengerti bahwa kebencian ini muncul hanya sebagai AKIBAT. Akibat dari kebodohan manusia yang membuat salah pengertian dari pihak lainnya. Oleh sebab itu, pak Walikota, kami butuh tindakan anda, HENTIKAN MUSIK SAHUR dan PETASAN!

5 comments.

Esia di Makassar

Posted on January 3rd, 2008 by john.
Categories: fun, General, Makassar.

Kayaknya belum banyak blogger makassar yang mendengungkan ini.. ‘Gak terlalu penting sih..

Dengan kode awal 91xxx… ESIA MASUK MAKASSAR.. tapi masih sux, secara dia hanya bisa nyambung ke sesama esia. Seperti waktu StarOne/Jagoan dulu baru masuk Makassar, hanya bisa sesama Indosat saja.

Anehnya Fren dengan 0888-nya kok nggak nemuin masalah seperti itu ya? Apa karena nomor Fren itu berlaku nasional, seperti nomor GSM, sehingga telkom Makassar mau gak mau ya harus koneksi ke sana, sementara Esia & StarOne pakai nomor lokal Makassar (prefix 0411)?

Artinya, bukan Telkom yg SUX, tapi TELKOM MAKASSAR yg SUX?

ah Monopoli ekonomi memang sux dalam berbagai bentuknya. KPPU mana ya, kok kalo perusahaan asing (singtel_lupa nama perush. gedenya-telkomsel-indosat dsb yg sempat heboh2 itu) dipersoalkan, sementara yang gede kaya gini malah didiamkan ya…

Yang menarik dari Esia adalah caranya menjual nomor perdana. Tinggal nongkrong di salah satu terminalnya, pilih nomor di komputer, catat, ke kasir lalu bayar. Jadi nomor tersebut benar-benar pilihan kita. Bukannya kita diberi daftar nomor-nomor (biasanya paling banyak 10) lalu disuruh pilih salah satunya. Walaupun ada daftar, tapi kita tidak diminta pilih langsung dari daftar itu. Daftar itu hanya jadi acuan saja. Memang masih agak lambat karena nomor pilihan kita baru bisa diambil beberapa jam kemudian, malah saya ambilnya keesokan harinya, tapi cukup menarik karena nomor tersebut jadi lebih personal dan punya arti buat pembelinya. Minimal membuat pilihan menjadi lebih banyak. Nice Touch, secara saya udah borong beberapa nomor yang punya arti buat sekelompok orang di Makassar :D hehehe.

Eniwei, Congrats buat Esia yang dah masuk ke Makassar.. atau congrats buat Makassar yang udah dimasuki Esia? :D

catatan: Bukti visual nyusul…

6 comments.

Makassar Solar Halo

Posted on October 29th, 2007 by john.
Categories: fun, Makassar.

My wife called me this morning, about 10.50 AM. I thought she wanted to remind me to pick her up and together go and pick up our son from school, but I was wrong.

“There’s a solar eclipse right now!!!! People here are all outside, watching the sky, using sun-glasses. People are taking pictures. Just go outside and see it for yourself.”

“What? A solar eclipse? It’s impossible, there’s no news about it, and it isn’t dark outside.”

I was near the entrance door of my office, I looked outside, everything seems OK, no sign of supposed-to-be dark solar eclipse situation. But, I step outside, and look up to the sky, there’s something strange allright, there’s some sort of rainbow near the sun. Curious, I step further outside, to the street in front of my office, look up, and while trying to block the sun with my hands, I see a big Halo, surrounding the sun.

No, it wasn’t a solar eclipse this morning that appeared to everyone in Makassar, but it was a Solar Halo. People aren’t familiar with this phenomenon and almost everyone refer to it as an eclipse, they thought that the big round thing was the moon, covering the sun.

Anyway, I took a great picture of it. I tried to take the picture near my house, but there are always electrical cords hanging all around and ruin my picture. So, after picking up my son, we decided to go to an area called Tanjung Bunga, which I know has no electrical cords hanging in the streets, specially along the Metro street. So, I stopped a while, open the car door a bit, and look straight up with my (new) camera.. and here’s the best picture i’ve got:

Makassar Solar Halo

I took a total of 75 pictures of the halo, and this is the most round and full of the halo. Using ISO 100 and -1 Exposure, this image is still disturbed by my car door at the right-up corner and left-bottom corner. My eyes are still uncomfortable now, specially when I close it :P

BTW, I also wanted to take pictures of people taking picture of the halo, but I only got one:

Taking Halo Pictures

So, enjoy the halo as I and Makassar people did this morning :)

1 comment.

di Bandara

Posted on September 13th, 2007 by john.
Categories: internet, Makassar, work.

Pesawat Delay,

Makin malam tiba di Jakarta…

Untung ada Hotspot

Walaupun lebih mahal dari 11000

Kutebus saja 9000 itu dengan posting ini :-)

Hotspot di Hasanuddin

Kurang konek detekted…

1 comment.

Aaaaaa

Posted on September 11th, 2007 by john.
Categories: Makassar, personal, weblog, work.

cuma pengen teriak ajah :P

0 comments.

Entry Lomba Poto

Posted on June 22nd, 2007 by john.
Categories: fun, Makassar, weblog.

Since this is originally an english written blog, and my ‘real’ blog is temporarily STUPID, I’ll just post the entry here, of course with a proper translation of the post in english :)

Ehm.. tidak seperti teman-teman lain, yang pada pinter2 bercerita untuk entry lomba foto, saya mah tu de poin aja … :D

Foto 1

FOTO 1 ======================
Tanggal Pemotretan: 17/11/2005
Lokasi Pemotretan:
Obyek = Sunset di Makassar, Pulau Lae-Lae dan Benteng/Fort Rotterdam.
Fotografernya = Crane bangunan gedung baru Kantor Walikotamadya Makassar –> yang ini yang seru nih. Foto ini betul-betul tidak terlupakan, bukan cuma hasilnya yang IMHO cantik, tapi proses sampai bisa dapat fotonya yang unik *padahal ceritanya cuma kaya gini: waktu itu kita lagi pasang antena/bts/subscriber module canopy di kantor walikota … hehehehe*
====================================

Foto 2

FOTO 2 =====================
Tanggal Pemotretan: 04/03/2007
Lokasi Pemotretan: Jl. Somba Opu, Makassar (di event Karnaval Budaya Nusantara 2007)
Ceritanya: Siapa yang nggak ingat Makassar dengan Sultan Hasanuddinnya kalau ketemu ama pria-pria kekar, gondrong dan bertopi merah seperti ini? :D Padahal Sultan Hasanuddin dari Gowa di’ :P
====================================

5 comments.

Losari Cyber Beach 2

Posted on May 29th, 2007 by john.
Categories: internet, Makassar.

Akhirnya berkesempatan…

Tadi siang, setelah bertandang ke UMI untuk acara workshop Linux tanggal 2 nanti, saya dan Fadly ‘singgah’ untuk makan siang sekaligus ‘menjajal’ HotSpot Telkom di Pantai Losari.

Ternyata benar, panjang banget! dari Rumah Jabatan Walikota (dekat Pintu Gerbang Tanjung Bunga) sampai MGH, dipenuhi logo Telkom Hotspot. Kami sendiri mencoba dari area dekat Hotel Imperial Aryaduta (Sedona), dan ‘konek’ ke Access Point dengan nama Hotel tsb.

Rata-rata kecepatan cukup baik, saya melakukan percobaan di speedtest.net, hasilnya cukup memuaskan, jika melakukan test dari Server di Singapura, kecepatan rata-ratanya 250 kbps untuk download dan 190 kbps untuk upload.

Nah, sekalian dari situ pula saya mengirim laporan ke milis LUGU.
Sebenarnya dengan adanya hotspot gratis ini, setengah dari mimpi saya sudah jadi kenyataan. Sebuah ruang publik, terbuka, dengan akses internet kecepatan (cukup) tinggi, gratis pula.

Setengah, soalnya cuma sebulan! :P

Bukan cuma hotspot ini, ada koneksi kecepatan tinggi lain yang setahu saya baru ditawarkan di Makassar, produk Indosat M2. Dengan slogan 3.5G, koneksi hingga 2,6 Mbps menggunakan modem pcmcia atau usb. Tapi sayang harganya masih lumayan tinggi, apalagi kalau harus beli modemnya :) Memang ada paket gratis modem, tapi minimum kontrak 1,5 tahun, dan quota perbulan untuk paket standar dipatok 1 GB untuk Rp 300.000,- perbulan. Hitung punya hitung, kayaknya masih cukup mahal. Makanya realisasi mimpi saya cuma _setengah_!

BTW, sedikit narsis, tapi berhubung cuma ini satu-satunya foto dokumentasi kejadian di atas, ya ini ajalah fotonya :)
Soalnya, kopdar tanpa foto adalah Basb… Ah, sudahlah!

Nge-HotSpot Gratis di Losari

Keterangan Foto (cropped for unspecified security reasons) :
Lokasi: Sunshine Kopi Tiam, sebelah Hotel Imperial Aryaduta, Pantai Losari Makassar.
Model: gelas, laptop, cabe (botol), piring nasi goreng, tomat di atas piring, tangan saya (beserta jam), sedikit rambut saya dan 2 orang di belakang itu… nggak tau siapa!
Fotografer: Fadly (internux)
Camera: Kodak Z740 Zoom Digital Camera

2 comments.