John Chendra; father of Japheth Adriel & Jared Ezekiel, husband of Yenni. A learning Human Being who is interested in Information Technology: Internet, Multimedia, System Administration and Security.. And nowadays: Finance & Accounting! :)
“For the word of the LORD is right and true; he is faithful in all he does. The LORD loves righteousness and justice; the earth is full of his unfailing love.”
Brought to you by BibleGateway.com. Copyright (C) NIV. All Rights Reserved.
(Psalm 33:4-5, NIV)
| S | M | T | W | T | F | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Dec | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | |||
Posted on November 27th, 2011 by john.
Categories: coffee, personal, work.
Kopi!
Salah satu alasan yang cukup baik bagi saya untuk mulai (belajar) nulis lagi adalah Kopi!
Saya sedang belajar tentang kopi. Belajar dari mana? Ya dari mana saja, mulai dari para pakar seperti Kang Toni Wahid (@toniwahid) di blognya cikopi.com atau dari Kang Adi W. Taroepratjeka (@peminumkopi) dan blognya di aditaroepratjeka.wordpress.com hingga ke biangnya ilmu pengetahuan di masa kini seperti mbah Google dan tentu saja mbah Wikipedia.
Petualangan ini mulai secara alamiah sebenarnya sejak saya lahir. Saya lahir membawa “beban” brand kopi yang bagi saya berkah sekaligus “kutukan”, yang sudah melekat di keluarga saya selama sekitar seabad ini. Yaaa tidak heboh-heboh amat sih, tapi syukurlah cukup punya pelanggan setia yang bertahan hingga saat ini
Secara definitif, saya menetapkan bahwa perjalanan kopi saya mulai ketika pertama kali belajar membuat espresso, cappuccino dan latte di Esperto Barista Course yang diasuh oleh sang Master Franky Angkawijaya. Sekitar bulan Maret tahun ini.
Sejak maret itu, saya mulai ‘rajin’ membaca soal kopi. Mendengar di sini dan di sana, membeli buku atau apa saja yang bagi saya menarik soal kopi, hingga berusaha mencoba berbagai rasa kopi yang terjangkau dalam radar telinga dan mata dan tentunya kapasitas dompet saya
What an amazing world! Dunia kopi itu begitu menarik, dan menyenangkan, seperti kata pak Kasmito, salah satu jagoan kopi spesialti indonesia di bawah bendera Maharaja Coffee, bahwa pelaku usaha kopi itu orangnya baik-baik, suka saling berbagi dan cukup terbuka satu dengan yang lain..
petualangan kopi ini pula membawa saya akhirnya bisa bertemu dan belajar salah satu tokoh kopi dunia, salah satu orang yang memulai prakarsa kopi spesialti untuk arabica sekitar 25 tahun lalu.. Ted Lingle, sang Direktur Ekskutif dari Coffee Quality Institute dan SCAA, asosiasi kopi spesialti amerika.
Perjalanan itu akhirnya membawa saya pada hari ini, kurang lebih seminggu setelah saya menjalani minggu “ajaib” yang menjadikan saya tidak lagi memandang secangkir kopi dengan cara yang sama.. Ah, luar biasa kekayaan itu.
Anyway, ini kulminasinya. Untuk banyak belajar, saya harus banyak berbagi. Untuk memahami lebih atas apa yang saya baca, saya harus menuliskannya kembali. Bukankah begitulah alasan kita mencatat semua pelajaran ketika sekolah dulu? Entah seberapa baiknya kita menyimpan catatan itu. Mungkin dalam beberapa waktu catatan itu menjadi absurd, kuno, atau bahkan salah! Tetapi sadar atau tidak, catatan itulah yang mematangkan ilmu yang kita pelajari. Dan semoga saya betah untuk mencatat dalam pelajaran kali ini
Here’s something to start.. Semoga catatan ini bertahan dan tidak menjadi “salah” sebelum waktunya..
O iya, soal nama-nama di atas, umumnya saya (akhirnya) sudah bertemu secara langsung, dan untuk info lebih lanjut soal mereka.. Just ask google!
… #bloggermalas
Posted on August 15th, 2010 by john.
Categories: faith, Makassar, personal, stupid things.
Pengacau itu bernama: MUSIK SAHUR dan kembarannya: PETASAN. Protes saya ini lebih terarah ke musik sahur, tapi karena karakteristiknya mirip, maka petasan juga sama menjengkelkannya. Alasan utama kebencian saya sebenarnya simpel, karena kami (khususnya anak-anak) sangat terganggu dengan kebisingan di tengah malam, membuat kami sulit tidur dan akhirnya anak-anak bisa terlambat ke sekolah. Saya berusaha mengerti, apa sebenarnya tujuan musik ini, berbagai rasionalisasi hadir, tapi terbantahkan dengan berbagai argumentasi yang saya jelaskan di bawah. Akhirnya membuat saya sadar, tak ada gunanya mentoleransi, lebih baik sekalian benci daripada makan hati
*ala lagu melankolis*
Tahun ini, baru hari ke-3 puasa, ramainya sudah tak ketulungan. Makin hari makin cepat mulainya (hari sabtu ini mulai sekitar pk. 22.00 malam), dan makin lama makin kacau lagunya. Apa sih tujuannya? Membangunkan orang untuk sahur? Saya tidak percaya. Ini alasannya:
Kesimpulan saya yang kurang ajar adalah, para pedangdut tengah malam itu justru curang. Mereka sengaja ‘bekerja’ pada tengah malam dengan alasan suci membangunkan orang untuk sahur, hanya agar mereka kelelahan sehabis sahur dan tidur pulas seharian dan bangun kembali ketika dekat saatnya berbuka puasa.. dapet uang pula. Konon kabarnya mereka berkeliling selain menyanyi, juga mengumpulkan sumbangan.
Coba bayangkan bila umat lain, pada hari rayanya memutar musik keras-keras di TENGAH MALAM lalu putar-putar keliling kota setiap malam selama sebulan penuh. Jangankan dapat surat pembaca, besok harinya, rumah ibadah mereka pasti sudah didemo dan/atau ditutup massa.
Sesungguhnya saudaraku, saya tak membenci bulan Ramadhan. Saya malah sangat menyukainya, sebab minimal pada siang hari, tak ada asap rokok di sekitar saya..:) Saya pada akhirnya mengerti bahwa kebencian ini muncul hanya sebagai AKIBAT. Akibat dari kebodohan manusia yang membuat salah pengertian dari pihak lainnya. Oleh sebab itu, pak Walikota, kami butuh tindakan anda, HENTIKAN MUSIK SAHUR dan PETASAN!
Posted on April 4th, 2010 by john.
Categories: fun, General, personal, stupid things.
Belakangan ini sering terpikir soal alumni-alumni-an ini. Mungkin pengaruh maraknya acara kumpul-kumpul alumni (reuni) yang ada di sekitar saya (dan di kota Makassar). Tetapi ada satu hal yang paling mengganggu pikiran saya ketika melihat fenomena ini.
Sebenarnya, tahun yang manakah seharusnya disebut sebagai tahun kita, TAHUN MASUK kah? atau TAHUN LULUS kah?
Sejauh ini saya sampai pada kesimpulan:
Untuk tingkat Universitas ke bawah, yaitu untuk tingkat pendidikan berjenjang yang lebih pasti dan ‘fixed‘ usianya, maka seharusnya yang dipakai adalah TAHUN LULUS, dengan alasan bahwa ‘kekakuan’ usia sekolah itu mau tak mau ‘memaksa’ kita untuk lulus bersamaan (kecuali ada kondisi khusus yang tinggal kelas, dsb, tetapi hal ini pun masih debatable).
Hal ini tidak ditemui di perkuliahan, yang mana tahun kelulusan sebenarnya lebih fleksibel, tergantung kerajinan si mahasiswa ;D
Sementara untuk yang tinggal kelas, sifatnya berbeda dengan ‘gagal’ di perkuliahan. Pada saat seseorang gagal di perkuliahan (pada mata kuliah tertentu), dia cukup mengulang mata kuliah itu saja, dan tidak perlu mengulang seluruh mata kuliah yang diambilnya dalam satu semester, sehingga dia tidak perlu selalu ‘bersama’ adik kelasnya dan mengulang dari awal semuanya lagi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal kelas ketika di SMA-SMP atau SD. Pengulangan setahun itu membuat kawan-kawan tersebut menjadi bagian dari generasi selanjutnya, dan ‘meninggalkan’ generasi sebelumnya. Sesungguhnya merekalah yang beruntung, sebab punya lebih banyak teman dari 2 tahun kelulusan yang berbeda
Sementara untuk tingkatan yang lebih tinggi, tepatnya S-1, maka sebaiknya yang dihitung adalah TAHUN MASUK. Alasannya, tahun kelulusan bisa beragam, sebab tak ada batasan tertentu yang HARUS dipenuhi untuk lulus kuliah. Saya butuh 4 tahun, kawan saya mungkin ada yang 5, 6 atau lebih, ada juga yang 3,5 tahun udah lulus. Masalahnya, ketika saya lulus di tahun ke-4 itu, ada tuh yang wisuda bareng saya tapi masuknya 1 atau 2 tahun lebih awal dari saya (dia kuliah 5-6 tahun), atau ada juga yang masuknya 1 tahun lebih cepat dari saya (anggaplah dia manusia super yang menyelesaikan kuliah hanya 3 tahun).
Nah kalau sudah begitu di bangku kuliah, maka tidak fair untuk menghitung berdasarkan tahun kelulusan, harusnya tahun masuk yang jadi dasar. Dan toh ketika perkuliahan berlangsung, biasanya yang jadi kawan terakrab kita ya mereka-mereka yang se-angkatan dengan kita.. se-angkatan masuk, bukan se-angkatan lulus (sebab kita tidak tahu kapan sebenarnya kita akan lulus). Yah, ini asumsi normal, bukan untuk para pecinta kampus, para mahasiswa abadi..
Jadi, bagaimana menurut anda, seperti apakah tahun alumni kita harus dikategorikan? Apakah harus disebut setiap kali, misalnya ALUMNI SD X TAHUN LULUS 1990 atau ALUMNI UNIV. Y TAHUN MASUK 2009… atau bagaimana?
Bagaimana pula dengan cara bakunya? (adakah cara baku perhitungan ini dalam pelajaran “Bahasa dan Sastra Indonesia”?) atau bagaimana dengan bangsa-bangsa lain menyebut tahun alumni ini? Sepertinya di Amerika, istilah “class of xxxx” merujuk pada tahun kelulusan… apakah hal ini berlaku untuk semua tingkatan sekolah?
Kalau saya, saya lebih suka dengan kesimpulan saya di atas. Berbeda antara SD-SMP-SMA dan Universitas.
Tapi masih belum ada gambaran untuk perkuliahan tingkat lanjut (S-2, S-3, Post Doctorate).. tapi sepertinya studi-studi pada tingkat itu sudah lebih personal dan jarang ada lagi grup-grup alumninya..
Wah, rencananya 2-3 kalimat, kok jadi 3 lembar gini ya..
hahahaha.. it’s good to blog again.. see you!
Posted on September 16th, 2009 by john.
Categories: fun, jcnet, personal.
Test posting from wordpress for iPhone…
Posted on October 7th, 2008 by john.
Categories: finance, personal.
Jadi ceritanya… saya lagi cari asuransi jiwa term-life seperti saran priyadi di salah satu postingnya. Tadi siang sebelum pulang makan siang (yea rite, jam 3 baru mau makan siang..), saya sempatkan diri ke bank Mandiri, selain karena dekat dari rumah dan sudah punya account di sana, ya karena menurut Narsum yang tak jelas moralnya itu.. mereka jual dua-duanya, asuransi term-life dan ReksaDana. Berhubung asuransi via EduPlan BII akan segera habis di Januari 2009 saya rasa saya harus cepat mencari penggantinya sebelum semuanya terlambat.. hehehe kok tragis gitu ya
Lanjut.. Sepulang dari Bank Mandiri, baru aja masuk mobil.. ada telepon dari ACE Insurance Indonesia…
Kebenaran telepon ini masih saya ragukan sampai sekarang, tapi kok makin lama makin yakin bahwa mereka beneran, bukan akal-akalan seperti kasus Blue Planet dulu.
Ajaibnya, mereka nawarin asuransi term life dengan premi yang lebih murah daripada yang di Bank Mandiri, tapi dengan UP (Uang Pertanggungan) yang lebih besar (katanya saya no. 15 dari 35 org Makassar yg ‘beruntung’.. kalimat ini yang bikin saya ragu). Setengah takjub, saya sempat curiga, apa dia ada ‘main’ dengan Financial Advisor di Bank Mandiri tadi ya.. tapi ternyata tidak, sebab kata orang rumah, dia udah nyari saya sejak sebelumnya (telpon ke rumah).. sebelum saya ke Bank Mandiri. Saya juga makin takjub karena ketika si petugas call-center menceritakan semua premi dan UP itu, saya sama sekali tidak mengindikasikan bahwa saya sedang mempertimbangkan membeli asuransi dengan UP yang segitu.. nanti belakangan, setelah banyak bertanya, saya baru ‘buka kartu’ ke dia bahwa memang saya sedang mencari dan men-survei mengenai asuransi term-life.
Nah, Setelah menolak 2 kali utk memberikan no. kartu kredit.. akhirnya saya luluh juga, istilahnya, too good to be true, too precious to skip through.. saya pikir… yaa.. paling saya rugi go-ban lagi untuk blokir dan re-request kartu visa baru dari BCA.. kalau saja si Hassel (nama yg aneh utk cowok) itu tadi nipu.
Eniwei, Kita liat aja 21 hari ke depan, ada polis ga dateng ke rumah.. lumayan, 73rebu sebulan, bisa diperpanjang tiap tahun tanpa merubah premi & UP (apa tuh namanya um pri.. guaranteed renewability ya?) persis yang gw mau, dan jauh lebih baik daripada penawaran AXA di B.Mandiri yang setelah saya tanya, katanya tiap 5 tahun premi akan naik, tapi UP-nya tetap..
Terakhir, ada yang punya pengalaman dengan ACE Insurance? aceinsurance.co.id alamatnya. Dari hasil nanya-nanya om gugel sih, sepertinya perusahaannya oke punya, dan merupakan cabang dari ACE Insurance di luar negeri.
Dan paling terakhir: dengan bantuan plugin WordPress Automatic Upgrade, saya berhasil lepas dari ketergantungan terhadap Fantastico
dan mudah-mudahan bisa terus mengikuti perkembangan WP dengan cefat dan menambah semangat untuk sering-sering mengupdate blog
Posted on July 28th, 2008 by john.
Categories: family, fun, personal.
Hari ini kami akan kembali ke Pangkal Pinang…
Sehari semalam di Parai Beach Resort cukup menyenangkan.. Resortnya nyaman, pantainya indah, jalannya capek.. soalnya kamar kami cukup jauh dari pusat kehidupan (restoran
)
Resort ini cukup jauh dari kota, karena itu kami tidak bisa kemana-mana setelah malam tiba dan keluarga istri saya yang mengantar sudah pulang ke Pangkal Pinang. Akhirnya waktu hanya dinikmati di depan tivi karena istri saya mendadak takut sama pantai di malam hari
Pantai Parai cukup indah, menarik karena banyak batu-batu besar, termasuk kawasan The Rock yang sangat cantik untuk dijadikan background untuk foto.
Makanan di restorannya.. tidak bisa dikatakan sangat lezat, tapi cukuplah daripada tidak makan sama sekali (again: letaknya cukup jauh dari kota Sungai Liat).
Satu yang terakhir: MAHAL! tapi biarlah.. namanya juga liburan kejepit
hehehehe
Posted on January 3rd, 2008 by john.
Categories: personal, stupid things.
Parah, rusak, hancur, musnah, kacau.
Kemarin saya seperti kehilangan salah satu anggota keluarga. Lebih parah daripada ketika Kamera Canon S2IS saya rusak. Lebih parah daripada ketika Kabel Charger Kamera Canon EOS 400D saya hilang. Lebih parah daripada ketika modem ADSL di kantor sekarang rusak. Lebih parah daripada salah satu server di kantor lama dulu jebol dan RAMnya diinfeksi Trojan…
Harddisk utama dalam kehidupan saya, yang isinya semua file-file penting selama 5 tahun terakhir, termasuk foto-foto keluarga dan berbagai event yang saya ‘liput’ dari tahun 2005 yang lalu (total “My Pictures” kira kira 20-30GB), beberapa file hasil kreasi saya berupa publikasi, surat, logo, iklan, poster, spanduk, brosur, sampai video.. JEBOL dan tidak bisa diakses lagi. 200GB, hilang begitu saja.
Kemungkinan yang sangat saya harapkan adalah hanya terjadi koslet, ketika saya menghubungkan kabel adaptor dan pin-pin power hdd tsb. Memang kesalahan saya adalah menjadikan harddisk itu sebagai harddisk eksternal, hanya dengan menggunakan kabel sambungan IDE-USB biasa, yang mudah dicopot dan sejujurnya menurut saya tidak reliable. Seharusnya minimal saya gunakan box khusus dan tidak terlalu me-mobile-kan harddisk tersebut.
Moga-moga masih ada teknisi atau penyelamatdata.com yang masih bisa menghidupkannya kembali, minimal menarik data penting yang ada di dalamnya. Benar-benar hadiah tahun baru yang mengejutkan. Menambah satu poin dalam evaluasi 2007 saya: Lakukan BACKUP data secara berkala.
Sedih, kemarin saya seperti orang yang tak punya nyawa lagi, malas, lesu, jengkel, marah, sakit hati, merasa bodoh, terus bertanya-tanya “mengapa” … jadi agak rapuh..
Hari ini sih sudah normal kembali
BTW, SELAMAT TAHUN BARU 2008!