Kapan di Makassar?

Posted on May 22nd, 2007 by john.
Categories: Makassar, internet.

Saat ini 00.34 00.54 WIB, saya lagi di tempat yang ramai sekali.

Sebenarnya tidak aneh sih, tempat ini restoran biasa. Di Makassar pun ada beberapa.

Saya saat ini di Jakarta, sudah cukup mengantuk, tapi berhubung baru online lagi setelah 1 minggu… puas-puasin dulu dah

Tempat ini cukup luar biasa, beberapa orang saya lihat sudah duduk jauh lebih lama dari saya. Saya sendiri sudah lebih dari 1 jam. Malah sudah hampir 2 jam. Kebanyakan dari mereka bercerita satu dengan yang lain, ada juga yang pacaran. Tapi tempat ini terang benderang kok, malah ada Tivi layar lebar dan datar yang sedang memutar Film aneh di salah satu Tivi suasta. Rasanya itu lebih merusak daripada konten perusak di Internet.

Sayangnya justru bagian terpenting dari tempat ini saat ini, belum ada di Makassar. Itu setahu saya. Syukurlah kalau saya salah, artinya saya masih harus bergaul banyak dengan malam-malam gelap di Makassar :)

Sudahlah, posting kali ini memang membingungkan, bahasanya aneh, ceritanya aneh.

Sebabnya simpel, Saya masih terkesima dengan…. Internet Gratis di warung Dunkin’ Donuts Hayam Wuruk! Sebenarnya tidak terlalu gratis sebab rasanya aneh saja kalau main internet, tanpa beli donat atau minum sesuatu :D Tapi Internetnya GRATIS! Minuman dan donat saya sudah habis cukup lama, Tapi Internetnya tetap GRATIS!

Itu yang kapan di Makassar? bahkan, itu yang kapan di Indonesia? bahkan, itu yang kapan di DUNIA?

Pendidikan dan Internet, kalau pendidikan mau maju, minimal internetnya mesti gratis! Internet bagi saya sesuatu yang netral. Secara semangat ia memacu keterbukaan dan kebebasan komunikasi. Secara kultural ia menggebrak banyak hal yang sudah ada di dunia saat ini. Merusak atau tidaknya internet, bukan tergantung pada internet-nya.

Listrik, HP (Selular), bahkan sampai Palu (hammer) pun bisa merusak jika jatuh di tangan pengguna yang salah. Masalah utamanya justru bukan di internet, tapi di orang di belakang internet. Justru manusia yang tidak bisa kita lihat sebagai sesuatu yang ‘netral’ apalagi kalau menyangkut anak-anak. Pikiran mengenai kepolosan anak-anak yang dirusak oleh konten internet bagi saya justru terbalik.

Nah, demi lomba entry di AM, ta’ bela-belain deh posting ini biar nyambung dengan tema acara… namanya juga usaha :)

Ralat: Posting ini udah terlambat untuk ikut lomba… dasar saya aja penikmat tren sesaat :D hehehehe

Gitu!

1 comment.

Hypermart-Unilever Mengecewakan!

Posted on July 11th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.

Hari Minggu yang lalu (09/07/06) saya sekeluarga pergi berbelanja ke Hypermart GTCHypermart mengecewakan Tanjung Bunga Makassar. Kami ke sana setelah selesai menutup toko, sekitar pukul 21.00 WITA. Di sana kami berbelanja berbagai barang yang sedang diskon/murah dengan maksud menjual kembali di toko kami. Tentunya kami juga membeli berbagai kebutuhan lainnya. Total belanjaan kami malam itu mencapai hampir Rp. 1.300.000,- Diantara belanjaan kami ada berbagai produk yang diproduksi oleh Unilever, antara lain Rinso, Citra, Axe, Rexona, dan Pepsodent.

Tanpa sepengetahuan kami, di baris paling bawah STRUK pembelanjaan, sebelum tulisan “Anda Hemat Rp. sekian sekian”, tertera tulisan “Dapat 33 pcs sabun Lifebuoy 90 gram”. Kami tidak sempat membaca baris tersebut malam itu, dan mungkin karena Hypermart sudah mau tutup, petugas Kasir-pun tak sempat memberi tahu kami. Mudah-mudahan itu yang terjadi, bukannya malah petugas kasir juga sengaja tidak memberi tahu kami. (more…)

1 comment.

Seperti Sedia Kala™

Posted on May 20th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.

Bukan, bukan dia..
Posting ini saya tulis sejak 15 Mei yang lalu, tapi baru sempat diselesaikan dan dipublish hari ini. Moga-moga belum terlalu BasBang!

Makassar sudah kembali seperti sedia kala. Mungkin masih cukup berat, tapi mestinya sudah normal kembali. Memang masih ada perasaan risih, apalagi ketika ada orang-orang chinese yang berpapasan, lewat, dan mondar-mandir di tengah keramaian dan bertemu dengan orang-orang non-chinese. Entah hanya perasaan saya atau memang demikian adanya, tapi situasi sudah berangsur normal dalam dua-tiga hari terakhir ini. Ekonomi sudah bangun lagi, semua sudah seperti sedia kalaâ„¢

Satu hal yang saya selalu diskusikan bersama keluarga, apa sih, dan bagaimana sih sebenarnya bentuk ideal dari ‘pembauran’ itu sendiri. Apakah karena perbedaan warna kulit semua harus berbeda? Dewasa ini sudah banyak orang non-chinese yang berperilaku sangat chinese, sementara orang chinese yang berperilaku sangat non-chinese. Dalam keseharian pun, ketika isu rusuh dan ganyang muncul, rekan-rekan yang non-chinese turut merasakan dampak dengan tutupnya ratusan toko dan mencekamnya suasana kota. Itulah indahnya keberagaman, ketika semua turut merasakan apa yang dirasakan oleh sebagian. Semoga ini disadari semua pihak, daripada saling sikut, mending saling sayang.

Di sisi orang chinese sendiri, orang chinese harus belajar untuk ‘turun’ (entah apa istilah yang tepat). Kerjakan berbagai bidang yang dahulu tidak disentuh orang-orang chinese. Jadilah polisi, politisi, pengacara, tentara, PNS, atau profesi/pekerjaan lainnya. Belakangan ini fenomena seperti ini sudah mulai tampak. Sudah ada pegawai-pegawai supermarket, teknisi, bahkan PNS yang chinese. Khususnya untuk Makassar, hal ini sangat penting. Sebab sangat jarang orang chinese di Makassar yang terjun dalam bidang lain selain berdagang. Guru misalnya, sangat jarang guru chinese di sini. Di 10 sekolah negeri yang menjadi klien kami di kantor, tak ada satupun gurunya yang berlatar chinese. Ini mungkin juga disebabkan umumnya guru di sekolah negeri itu adalah PNS. Tak usah jauh-jauh, di sekolah tempat istri saya mengajar, yang notebene adalah sekolah Kristen, yang Yayasannya adalah dari salah satu Gereja berlatar Tionghoa terbesar di Makassar, jumlah guru yang chinese dapat dihitung dengan jari. Itupun ada yang guru bahasa Mandarin. Situasi yang sangat berbeda dengan kampung halaman istri saya. Di Bangka, menurut cerita istri saya, pembauran lebih terasa. Tidak sedikit jumlah orang chinese yang menjadi guru, pegawai, tukang, bahkan ada yang menjadi pembantu rumah tangga.

Seharusnya, orang chinese turut berjuang bersama seluruh golongan masyarakat, tidak ekslusif sendiri dan melihat suku lain dengan sebelah mata. Memang setiap suku punya rasa kebanggaan tersendiri (chauvinisme KTS), tidak usah dipungkiri. Tapi justru ketika kita berusaha meminimalkan kebanggaan itu, maka kita akan menjadi orang yang lebih rendah hati, lebih dapat diterima oleh semua pihak. Daripada semua menonjol dan akhirnya bertengkar, lebih baik semua saling hormat dan akhirnya semua senang.

2 comments.

Masa depan

Posted on May 12th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.

Seletah berkomentar di weblog Rara, jadi tergugah untuk nulis dikit.

Mahasiswa. Kebanyakan (kalau tidak mau dikatakan semua) aksi bernuansa SARA atas nama demonstrasi dua tiga hari ini di Makassar, semua dilakukan oleh Mahasiswa. Bukan orang yang mengaku sebagai mahasiswa, tapi memang mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di Makassar. Mereka yang mulai dari berorasi, hingga konvoi dan melakukan sweeping atas nama demonstrasi. Kata-kata seperti ada pelanggaran HAM-lah, penegakan Hukum-lah, keadilanlah.. Semua itu mereka pakai untuk membenarkan tindakan mereka.

Yang mengerikan, inilah, para rasis inilah masa depan kita. Apa jadinya Makassar dalam 10 tahun ke depan? 20 tahun ke depan? Inilah wajahnya, dalam wajah-wajah para perusuh intelektual saat ini. Sedih.

Saya sebagai orang tua, kemudian bertanya-tanya, inikah masa depan anak saya? Tidak heran beribu orang yang lari keluar dari Indonesia, bersusah payah di negeri orang, agar bisa lolos dari masa depan yang suram ini. Sebagai orang tua juga, saya jadi bertanya, bagaimana sih sesungguhnya pendidikan di Indonesia? Tidak heran beribu orang berusaha menyekolahkan anak-anak mereka di luar negeri. Mungkin saya berpikir terlalu jauh, sedikit paranoid dan mengada-ada. Saya pikir, ini semua ekses dari kekesalan dan kecemasan akibat situasi Makassar sekarang.

Kota Makassar hari ini, lagi-lagi mati. Sejak pagi hingga siang ini, minimal Jl. Somba Opu di sekitar rumah saya, sangat sunyi. Tidak seperti biasa. Toko-toko umumnya tutup, atau buka MMK, lalu lintas sepi, puluhan polisi berjaga-jaga dan akhirnya menjadi warga Somba Opu dadakan. Lagi-lagi ekonomi hari ini mati dan tidak bergairah. Sayapun akhirnya tidak ke kantor, sebab kekuatiran hari Jumat ini lebih parah dari hari lain. Sampai kapan? Minggu juga dicurigai, Senin.. Mungkin hari senin situasi sudah tenang kembali. Tapi, lagi-lagi mungkin. Mungkin juga mereka belum puas kalo belum ada darah sebagai bayaran? atau api yang membakar? atau ribuan kaca yang pecah? Entah.

Anyway, terima kasih untuk komentar teman-teman di weblog saya ini. Mudah-mudahan saya makin rajin dengan adanya kunjungan dari semua. :D

4 comments.

Belum Tenang

Posted on May 11th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.

Sedih rasanya, belum selesai juga orang-orang bodoh itu merusak Makassar. Berita resminya masih saya tunggu di televisi atau radio. Saya lihat di tv tadi berita yang dibahas masih seputar Iran, PBB, Amerika, dan seterusnya. Mungkin saya kurang pagi nontonnya.. :)

Informasi dari rekan sesama guru istri saya (mereka adalah guru-guru TK/SD saya ketika masih bersekolah di situ), semalam terjadi ’sweeping’ yang menahan bukan saja orang chinese yang kemudian dipukuli (suami-istri, naik Karimun katanya), tapi juga sudah mulai mencari orang yang beragama Kristen. Seperti dugaan saya, isunya pasti akan bergeser ke Kristen dan agama. Mungkin sebentar lagi gereja akan jadi sasaran seperti 97 yang lalu. Atau mungkin tidak? Sebab biasanya gereja sudah dijagai oleh beberapa tentara. Entahlah. Kejadian tersebut berlangsung di depan mata ibu guru itu sendiri, sekitar pukul 18.30 atau 19.00 WITA kemarin, 10 Mei 2006, di daerah depan kampus salah satu universitas yang mahasiswanya berdemo.

Saat ini, suasana jalan sendiri cukup sepi, minimal di daerah tempat saya tinggal, yang kemarin dijagai oleh satu truk aparat polisi/brimob. Entah bagaimana ekonomi hari ini, sepertinya akan tutup toko lagi. Istri saya menyarankan agar saya tidak usah ke kantor, berhubung daerah kantor saya yang berada di daerah yang cukup dekat dengan lokasi demonstrasi. Bukan takut pada orang-orang di sana, tapi justru kengeriannya ada ketika dalam perjalanan ke dan dari sana.

Yang lain, informasi dari murid-murid sekolah, termasuk orang tua mereka. Banyak murid SD di mana istri saya mengajar tidak masuk sekolah hari ini. Katanya kemarin banyak yang rumahnya menjadi korban lemparan. Utamanya mereka yang tinggal di Jl. Veteran dan Jl. Dr. Ratulangi. Ternyata berita yang beredar kemarin tentang ada ‘beberapa’ rumah yang kena lempar, tidak sepenuhnya benar, ternyata ‘banyak sekali’ rumah yang kena lempar. Salah satu murid yang cukup dekat dengan istri saya menjadi korban dan menginformasikan/mengkonfirmasikan hal ini.
Lucu, dan mungkin anda sudah bosan dengan keluhan kami. Maaf kalau terkesan SARA juga, tapi begitu banyak orang pribumi dan/atau beragama Islam lain yang bertindak kriminal kepada orang-orang non-pribumi, bahkan kepada orang pribumi sendiri, mengapa tidak mendemo/menghina/memaki/mengancam/melempari/memukuli orang pribumi yang lain juga? Apa ini kalau bukan diskriminasi? rasisme?

Coba taruh diri anda dalam sepatu kami. Berpuluh ribu orang keturunan yang mencoba untuk beradaptasi dan menjadi Indonesia sesungguhnya, akankah semuanya sia-sia lagi? Entah apa lagi yang harus saya tulis, sebab dengan menulis seperti itu, terkesan sebelumnya kami ini bukan orang Indonesia, padahal kami lahir dan mati di negeri ini. Benar-benar mengesalkan.

Soe Hok Gie, bangunlah, kritiklah ini.

3 comments.

Sudah Tenangkah?

Posted on May 11th, 2006 by john.
Categories: Makassar, personal.

Judul di atas sepertinya rada pesimis, tapi sesungguhnya saya ingin menjadi sangat optimis dengan keadaan Makassar saat ini. Syukur, tidak ada yang buruk terjadi hari ini, dalam waktu yang saya dan keluarga lewati, hanya ada satu kalo konvoi yang cukup mengesalkan yang meneriakkan kata-kata yang tidak nyaman dan bernada mengancam. Apalagi disertai dengan kelakuan peserta konvoi yang membawa pentungan, batu, dan berbagai peralatan tempur lainnya.

Terlaporkan ada beberapa rumah yang kacanya pecah karena menjadi sasaran lemparan oleh peserta konvoi tersebut, walaupun tentu saja tidak bisa saya konfirmasikan sendiri, sebab berita itu hanya selentingan saja dan beredar dari mulut ke mulut.

Yang terakhir, ada informasi dari salah satu aparat yang berbelanja di toko kami malam tadi, kabarnya akan ada pergerakan yang perlu diwaspadai pada hari Jumat (12/5) yang akan datang. Seperti biasa, isu-isu SARA semacam ini juga berasumsi bahwa bagi umat Muslim, tindakan ‘perang’ pada hari Jumat itu justru berpahala lebih besar.. atau semacam itu. Ah, namanya juga isu, semoga tidak ada yang tersinggung dengan posting saya ini, bahkan saya malah ingin minta pendapat dari teman-teman Muslim, bener ‘gak tuh?

Malam ini sih Makassar sudah agak hidup lagi, sudah ramai dengan lalu lintas kendaraan (minimal sampai sekitar jam 9 malam tadi ketika toko kami hampir tutup). Bahkan pembalap-pembalap liar yang biasanya sangat mengganggu Jalan Somba Opu di malam hari, sudah mulai ada. Padahal kemarin, satupun tidak ada. Sepertinya ketegangan di Makassar sudah mulai reda, terima kasih untuk usaha dari berbagai pihak, utamanya para pemimpin kami di daerah ini.

Good night, thank you for reading. Let’s hope for a better tomorrow.

3 comments.