<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>john's log &#187; stupid things</title>
	<atom:link href="http://john.chendra.net/category/stupid-things/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://john.chendra.net</link>
	<description>one day at a time</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Dec 2011 15:30:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengapa saya benci Musik Sahur</title>
		<link>http://john.chendra.net/2010/08/15/mengapa-saya-benci-musik-sahur/</link>
		<comments>http://john.chendra.net/2010/08/15/mengapa-saya-benci-musik-sahur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 19:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>john</dc:creator>
				<category><![CDATA[faith]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[stupid things]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://john.chendra.net/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Pengacau itu bernama: MUSIK SAHUR dan kembarannya: PETASAN. Protes saya ini lebih terarah ke musik sahur, tapi karena karakteristiknya mirip, maka petasan juga sama menjengkelkannya. Alasan utama kebencian saya sebenarnya simpel, karena kami (khususnya anak-anak) sangat terganggu dengan kebisingan di tengah malam, membuat kami sulit tidur dan akhirnya anak-anak bisa terlambat ke sekolah. Saya berusaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengacau itu bernama: MUSIK SAHUR dan kembarannya: PETASAN. Protes saya ini lebih terarah ke musik sahur, tapi karena karakteristiknya mirip, maka petasan juga sama menjengkelkannya. Alasan utama kebencian saya sebenarnya simpel, karena kami (khususnya anak-anak) sangat terganggu dengan kebisingan di tengah malam, membuat kami sulit tidur dan akhirnya anak-anak bisa terlambat ke sekolah. Saya berusaha mengerti, apa sebenarnya tujuan musik ini, berbagai rasionalisasi hadir, tapi terbantahkan dengan berbagai argumentasi yang saya jelaskan di bawah. Akhirnya membuat saya sadar, tak ada gunanya mentoleransi, lebih baik sekalian benci daripada makan hati <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  *ala lagu melankolis*</p>
<p>Tahun ini, baru hari ke-3 puasa, ramainya sudah tak ketulungan. Makin hari makin cepat mulainya (hari sabtu ini mulai sekitar pk. 22.00 malam), dan makin lama makin kacau lagunya. Apa sih tujuannya? Membangunkan orang untuk sahur? Saya tidak percaya. Ini alasannya:</p>
<ol>
<li>Waktu. Mengapa harus mulai secepat itu? Bukankah agar bisa bangun dengan segar atau &#8216;cukup tidur&#8217;, maka seseorang yang ingin sahur justru harus tidur LEBIH CEPAT dan NYENYAK? Musik tengah malam ini justru mengganggu, tidak saja mereka yang tidak puasa, tapi juga SANGAT MENGGANGGU ORANG YANG BERENCANA PUASA keesokan harinya. Jadi, kapan waktu yang tepat untuk Musik Sahur? pk. 12 malam? 01 dini hari? 02? 03? Sesungguhnya tak ada waktu yang tepat. Pukul 03.30 sekalipun, bila para penyanyi itu akan bersahur juga, mereka seharusnya berhenti menyanyi dan pulang ke rumah untuk bersiap-siap sahur.</li>
<li>Kegaduhan. Bulan ini bulan SUCI dan penuh BERKAH. Mana korelasi antara SUCI/BERKAH dan GADUH? SUCI/BERKAH dan ONAR? SUCI/BERKAH dan BISING? Tunjukkan pada saya hubungan itu, maka musik dan petasan itu menjadi masuk akal. Apakah tidak ada cara lain membangunkan orang sahur selain bermusik dengan desibel tinggi di tengah malam? Apa yang terjadi pada jam weker? Apa tak cukup dengan panggilan untuk sahur dari mesjid dan mushola terdekat?</li>
<li>Musik dan Lagunya. Saya tidak mendengar satupun lagu dan musik yang dinyanyikan itu berhubungan dengan bulan Ramadhan. Yang dinyanyikan adalah melulu lagu-lagu dangdut yang isinya: patah hati, kangen pacar, jatuh cinta, aku dan kamu, indahnya cinta, hepi-hepi, hingga keong racun. Pun bila lagunya berhubungan, apakah semua orang senang dengan musik sekeras itu? Bicara soal selera lain lagi. Masalahnya ini bukan musik yang statis pada satu lokasi, tapi musik yang diarak keliling kota. Tak semua orang yang terpaksa mendengar satu selera dengan mereka yang memutar/menyanyi.</li>
<li>Siapa yang dibangunkan? Siapa yang perlu bangun pukul 11/12 malam? 1/2/3 dini hari? Setahu saya, yang bangun secepat itu hanya para hansip dan mereka yang MEMPERSIAPKAN sahur. Jadi, kegaduhan ini hanya efektif untuk sebagian kecil orang yang ada dalam rumah. Itupun bila santapan sahurnya memang rumit dan butuh waktu lama untuk persiapannya. Bila satu keluarga berisi 5 orang, maka paling banyak hanya 1 orang (ibu) yang bangun lebih cepat mempersiapkan sahur. Yang lain? ngapain begadang berjam-jam hanya untuk menunggu sahur? Bukankah salah satu tujuan puasa itu melatih diri? Saya pikir salah satunya adalah untuk melatih diri untuk bangun tepat waktu.</li>
<li>Tujuan Puasa yang mulia. Dengan membuat mereka yang tak puasa marah dan jengkel SETIAP malam, maka sesungguhnya para pegaduh itu telah kehilangan tujuan yang mulia dari puasa. Ngapain berpuasa seharian mengejar pahala bila pada akhirnya pahala itu hangus akibat makian dari mereka yang dirugikan? Tolonglah! Kasihanilah anak-anak kami yang butuh tidur. Tanpa bermaksud menyamakan, tetapi mirip dengan tindakan pelarangan, penggrebekan dan penutupan yang marak pada bulan puasa, maka sesungguhnya bangun subuh untuk sahur juga adalah tantangan dalam berpuasa. Nah kalau tantangannya semua dihilangkan (dalam hal ini dengan cara &#8216;pembangunan&#8217; massal dengan musik bising), apa yang disebut puasa? hanya menahan lapar sajakah?</li>
</ol>
<p>Kesimpulan saya yang kurang ajar adalah, para pedangdut tengah malam itu justru curang. Mereka sengaja &#8216;bekerja&#8217; pada tengah malam dengan alasan suci membangunkan orang untuk sahur, hanya agar mereka kelelahan sehabis sahur dan tidur pulas seharian dan bangun kembali ketika dekat saatnya berbuka puasa.. dapet uang pula. Konon kabarnya mereka berkeliling selain menyanyi, juga mengumpulkan sumbangan.</p>
<p>Coba bayangkan bila umat lain, pada hari rayanya memutar musik keras-keras di TENGAH MALAM lalu putar-putar keliling kota setiap malam selama sebulan penuh. Jangankan dapat surat pembaca, besok harinya, rumah ibadah mereka pasti sudah didemo dan/atau ditutup massa.</p>
<p>Sesungguhnya saudaraku, saya tak membenci bulan Ramadhan. Saya malah sangat menyukainya, sebab minimal pada siang hari, tak ada asap rokok di sekitar saya..:) Saya pada akhirnya mengerti bahwa kebencian ini muncul hanya sebagai AKIBAT. Akibat dari kebodohan manusia yang membuat salah pengertian dari pihak lainnya. Oleh sebab itu, pak Walikota, kami butuh tindakan anda, <strong>HENTIKAN MUSIK SAHUR dan PETASAN!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://john.chendra.net/2010/08/15/mengapa-saya-benci-musik-sahur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alumni kapan?</title>
		<link>http://john.chendra.net/2010/04/04/alumni-kapan/</link>
		<comments>http://john.chendra.net/2010/04/04/alumni-kapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 15:15:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>john</dc:creator>
				<category><![CDATA[fun]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[stupid things]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://john.chendra.net/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini sering terpikir soal alumni-alumni-an ini. Mungkin pengaruh maraknya acara kumpul-kumpul alumni (reuni) yang ada di sekitar saya (dan di kota Makassar). Tetapi ada satu hal yang paling mengganggu pikiran saya ketika melihat fenomena ini. Sebenarnya, tahun yang manakah seharusnya disebut sebagai tahun kita, TAHUN MASUK kah? atau TAHUN LULUS kah? Sejauh ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini sering terpikir soal alumni-alumni-an ini. Mungkin pengaruh maraknya acara kumpul-kumpul alumni (reuni) yang ada di sekitar saya (dan di kota Makassar). Tetapi ada satu hal yang paling mengganggu pikiran saya ketika melihat fenomena ini.</p>
<p>Sebenarnya, tahun yang manakah seharusnya disebut sebagai tahun kita, TAHUN MASUK  kah? atau TAHUN LULUS kah?</p>
<p>Sejauh ini saya sampai pada kesimpulan:<br />
Untuk tingkat Universitas ke bawah, yaitu untuk tingkat pendidikan berjenjang yang lebih pasti dan &#8216;<em>fixed</em>&#8216; usianya, maka seharusnya yang dipakai adalah TAHUN LULUS, dengan alasan bahwa &#8216;kekakuan&#8217; usia sekolah itu mau tak mau &#8216;memaksa&#8217; kita untuk lulus bersamaan (kecuali ada kondisi khusus yang tinggal kelas, dsb, tetapi hal ini pun masih <em>debatable</em>).<br />
Hal ini tidak ditemui di perkuliahan, yang mana tahun kelulusan sebenarnya lebih fleksibel, tergantung kerajinan si mahasiswa ;D</p>
<p>Sementara untuk yang tinggal kelas, sifatnya berbeda dengan &#8216;gagal&#8217; di perkuliahan. Pada saat seseorang gagal di perkuliahan (pada mata kuliah tertentu), dia cukup mengulang mata kuliah itu saja, dan tidak perlu mengulang seluruh mata kuliah yang diambilnya dalam satu semester, sehingga dia tidak perlu selalu &#8216;bersama&#8217; adik kelasnya dan mengulang dari awal semuanya lagi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal kelas ketika di SMA-SMP atau SD. Pengulangan setahun itu membuat kawan-kawan tersebut menjadi bagian dari generasi selanjutnya, dan &#8216;meninggalkan&#8217; generasi sebelumnya. Sesungguhnya merekalah yang beruntung, sebab punya lebih banyak teman dari 2 tahun kelulusan yang berbeda <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sementara untuk tingkatan yang lebih tinggi, tepatnya S-1, maka sebaiknya yang dihitung adalah TAHUN MASUK. Alasannya, tahun kelulusan bisa beragam, sebab tak ada batasan tertentu yang HARUS dipenuhi untuk lulus kuliah. Saya butuh 4 tahun, kawan saya mungkin ada yang 5, 6 atau lebih, ada juga yang 3,5 tahun udah lulus. Masalahnya, ketika saya lulus di tahun ke-4 itu, ada tuh yang wisuda bareng saya tapi masuknya 1 atau 2 tahun lebih awal dari saya (dia kuliah 5-6 tahun), atau ada juga yang masuknya 1 tahun lebih cepat dari saya (anggaplah dia manusia super yang menyelesaikan kuliah hanya 3 tahun).<br />
Nah kalau sudah begitu di bangku kuliah, maka tidak <em>fair </em>untuk menghitung berdasarkan tahun kelulusan, harusnya tahun masuk yang jadi dasar. Dan toh ketika perkuliahan berlangsung, biasanya yang jadi kawan terakrab kita ya mereka-mereka yang se-angkatan dengan kita.. se-angkatan masuk, bukan se-angkatan lulus (sebab kita tidak tahu kapan sebenarnya kita akan lulus). Yah, ini asumsi normal, bukan untuk para pecinta kampus, para mahasiswa abadi.. <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, bagaimana menurut anda, seperti apakah tahun alumni kita harus dikategorikan? Apakah harus disebut setiap kali, misalnya ALUMNI SD X TAHUN LULUS 1990 atau ALUMNI UNIV. Y TAHUN MASUK 2009&#8230; atau bagaimana?</p>
<p>Bagaimana pula dengan cara bakunya? (adakah cara baku perhitungan ini dalam pelajaran &#8220;Bahasa dan Sastra Indonesia&#8221;?) atau bagaimana dengan bangsa-bangsa lain menyebut tahun alumni ini? Sepertinya di Amerika, istilah &#8220;class of xxxx&#8221; merujuk pada tahun kelulusan&#8230; apakah hal ini berlaku untuk semua tingkatan sekolah?</p>
<p>Kalau saya, saya lebih suka dengan kesimpulan saya di atas. Berbeda antara SD-SMP-SMA dan Universitas.</p>
<p>Tapi masih belum ada gambaran untuk perkuliahan tingkat lanjut (S-2, S-3, Post Doctorate).. tapi sepertinya studi-studi pada tingkat itu sudah lebih personal dan jarang ada lagi grup-grup alumninya.. <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Wah, rencananya 2-3 kalimat, kok jadi 3 lembar gini ya.. <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  hahahaha.. it&#8217;s good to blog again.. see you!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://john.chendra.net/2010/04/04/alumni-kapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecelakaan DIGITAL</title>
		<link>http://john.chendra.net/2008/01/03/kecelakaan-digital/</link>
		<comments>http://john.chendra.net/2008/01/03/kecelakaan-digital/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 06:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>john</dc:creator>
				<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[stupid things]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://john.chendra.net/index.php/2008/01/03/kecelakaan-digital/</guid>
		<description><![CDATA[Parah, rusak, hancur, musnah, kacau. Kemarin saya seperti kehilangan salah satu anggota keluarga. Lebih parah daripada ketika Kamera Canon S2IS saya rusak. Lebih parah daripada ketika Kabel Charger Kamera Canon EOS 400D saya hilang. Lebih parah daripada ketika modem ADSL di kantor sekarang rusak. Lebih parah daripada salah satu server di kantor lama dulu jebol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Parah, rusak, hancur, musnah, kacau.</p>
<p>Kemarin saya <strong>seperti </strong>kehilangan salah satu anggota keluarga. Lebih parah daripada ketika Kamera Canon S2IS saya rusak. Lebih parah daripada ketika Kabel Charger Kamera Canon EOS 400D saya hilang. Lebih parah daripada ketika modem ADSL di kantor sekarang rusak. Lebih parah daripada salah satu server di kantor lama dulu jebol dan RAMnya diinfeksi Trojan&#8230;</p>
<p>Harddisk utama dalam kehidupan saya, yang isinya semua file-file penting selama 5 tahun terakhir, termasuk foto-foto keluarga dan berbagai event yang saya &#8216;liput&#8217; dari tahun 2005 yang lalu (total &#8220;My Pictures&#8221; kira kira 20-30GB), beberapa file hasil kreasi saya berupa publikasi, surat, logo, iklan, poster, spanduk, brosur, sampai video.. JEBOL dan tidak bisa diakses lagi. 200GB, hilang begitu saja.</p>
<p>Kemungkinan yang sangat saya harapkan adalah hanya terjadi <em>koslet</em>, ketika saya menghubungkan kabel adaptor dan pin-pin power hdd tsb. Memang kesalahan saya adalah menjadikan harddisk itu sebagai harddisk eksternal, hanya dengan menggunakan kabel sambungan IDE-USB biasa, yang mudah dicopot dan sejujurnya menurut saya tidak <em>reliable</em>. Seharusnya minimal saya gunakan box khusus dan tidak terlalu me-<em>mobile</em>-kan harddisk tersebut.</p>
<p>Moga-moga masih ada teknisi atau <a href="http://www.penyelamatdata.com/" target="_blank">penyelamatdata.com</a> yang masih bisa menghidupkannya kembali, minimal menarik data penting yang ada di dalamnya. Benar-benar hadiah tahun baru yang mengejutkan. Menambah satu poin dalam evaluasi 2007 saya: Lakukan BACKUP data secara berkala.</p>
<p>Sedih, kemarin saya seperti orang yang tak punya nyawa lagi, malas, lesu, jengkel, marah, sakit hati, merasa bodoh, terus bertanya-tanya &#8220;mengapa&#8221; &#8230; jadi agak rapuh.. <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hari ini sih sudah normal kembali <img src='http://john.chendra.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>BTW, SELAMAT TAHUN BARU 2008!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://john.chendra.net/2008/01/03/kecelakaan-digital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

