Alumni kapan?

Posted on April 4th, 2010 by john.
Categories: General, fun, personal, stupid things.

Belakangan ini sering terpikir soal alumni-alumni-an ini. Mungkin pengaruh maraknya acara kumpul-kumpul alumni (reuni) yang ada di sekitar saya (dan di kota Makassar). Tetapi ada satu hal yang paling mengganggu pikiran saya ketika melihat fenomena ini.

Sebenarnya, tahun yang manakah seharusnya disebut sebagai tahun kita, TAHUN MASUK kah? atau TAHUN LULUS kah?

Sejauh ini saya sampai pada kesimpulan:
Untuk tingkat Universitas ke bawah, yaitu untuk tingkat pendidikan berjenjang yang lebih pasti dan ‘fixed‘ usianya, maka seharusnya yang dipakai adalah TAHUN LULUS, dengan alasan bahwa ‘kekakuan’ usia sekolah itu mau tak mau ‘memaksa’ kita untuk lulus bersamaan (kecuali ada kondisi khusus yang tinggal kelas, dsb, tetapi hal ini pun masih debatable).
Hal ini tidak ditemui di perkuliahan, yang mana tahun kelulusan sebenarnya lebih fleksibel, tergantung kerajinan si mahasiswa ;D

Sementara untuk yang tinggal kelas, sifatnya berbeda dengan ‘gagal’ di perkuliahan. Pada saat seseorang gagal di perkuliahan (pada mata kuliah tertentu), dia cukup mengulang mata kuliah itu saja, dan tidak perlu mengulang seluruh mata kuliah yang diambilnya dalam satu semester, sehingga dia tidak perlu selalu ‘bersama’ adik kelasnya dan mengulang dari awal semuanya lagi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal kelas ketika di SMA-SMP atau SD. Pengulangan setahun itu membuat kawan-kawan tersebut menjadi bagian dari generasi selanjutnya, dan ‘meninggalkan’ generasi sebelumnya. Sesungguhnya merekalah yang beruntung, sebab punya lebih banyak teman dari 2 tahun kelulusan yang berbeda :)

Sementara untuk tingkatan yang lebih tinggi, tepatnya S-1, maka sebaiknya yang dihitung adalah TAHUN MASUK. Alasannya, tahun kelulusan bisa beragam, sebab tak ada batasan tertentu yang HARUS dipenuhi untuk lulus kuliah. Saya butuh 4 tahun, kawan saya mungkin ada yang 5, 6 atau lebih, ada juga yang 3,5 tahun udah lulus. Masalahnya, ketika saya lulus di tahun ke-4 itu, ada tuh yang wisuda bareng saya tapi masuknya 1 atau 2 tahun lebih awal dari saya (dia kuliah 5-6 tahun), atau ada juga yang masuknya 1 tahun lebih cepat dari saya (anggaplah dia manusia super yang menyelesaikan kuliah hanya 3 tahun).
Nah kalau sudah begitu di bangku kuliah, maka tidak fair untuk menghitung berdasarkan tahun kelulusan, harusnya tahun masuk yang jadi dasar. Dan toh ketika perkuliahan berlangsung, biasanya yang jadi kawan terakrab kita ya mereka-mereka yang se-angkatan dengan kita.. se-angkatan masuk, bukan se-angkatan lulus (sebab kita tidak tahu kapan sebenarnya kita akan lulus). Yah, ini asumsi normal, bukan untuk para pecinta kampus, para mahasiswa abadi.. :D

Jadi, bagaimana menurut anda, seperti apakah tahun alumni kita harus dikategorikan? Apakah harus disebut setiap kali, misalnya ALUMNI SD X TAHUN LULUS 1990 atau ALUMNI UNIV. Y TAHUN MASUK 2009… atau bagaimana?

Bagaimana pula dengan cara bakunya? (adakah cara baku perhitungan ini dalam pelajaran “Bahasa dan Sastra Indonesia”?) atau bagaimana dengan bangsa-bangsa lain menyebut tahun alumni ini? Sepertinya di Amerika, istilah “class of xxxx” merujuk pada tahun kelulusan… apakah hal ini berlaku untuk semua tingkatan sekolah?

Kalau saya, saya lebih suka dengan kesimpulan saya di atas. Berbeda antara SD-SMP-SMA dan Universitas.

Tapi masih belum ada gambaran untuk perkuliahan tingkat lanjut (S-2, S-3, Post Doctorate).. tapi sepertinya studi-studi pada tingkat itu sudah lebih personal dan jarang ada lagi grup-grup alumninya.. :D

Wah, rencananya 2-3 kalimat, kok jadi 3 lembar gini ya.. :D hahahaha.. it’s good to blog again.. see you!

0 comments.

Kecelakaan DIGITAL

Posted on January 3rd, 2008 by john.
Categories: personal, stupid things.

Parah, rusak, hancur, musnah, kacau.

Kemarin saya seperti kehilangan salah satu anggota keluarga. Lebih parah daripada ketika Kamera Canon S2IS saya rusak. Lebih parah daripada ketika Kabel Charger Kamera Canon EOS 400D saya hilang. Lebih parah daripada ketika modem ADSL di kantor sekarang rusak. Lebih parah daripada salah satu server di kantor lama dulu jebol dan RAMnya diinfeksi Trojan…

Harddisk utama dalam kehidupan saya, yang isinya semua file-file penting selama 5 tahun terakhir, termasuk foto-foto keluarga dan berbagai event yang saya ‘liput’ dari tahun 2005 yang lalu (total “My Pictures” kira kira 20-30GB), beberapa file hasil kreasi saya berupa publikasi, surat, logo, iklan, poster, spanduk, brosur, sampai video.. JEBOL dan tidak bisa diakses lagi. 200GB, hilang begitu saja.

Kemungkinan yang sangat saya harapkan adalah hanya terjadi koslet, ketika saya menghubungkan kabel adaptor dan pin-pin power hdd tsb. Memang kesalahan saya adalah menjadikan harddisk itu sebagai harddisk eksternal, hanya dengan menggunakan kabel sambungan IDE-USB biasa, yang mudah dicopot dan sejujurnya menurut saya tidak reliable. Seharusnya minimal saya gunakan box khusus dan tidak terlalu me-mobile-kan harddisk tersebut.

Moga-moga masih ada teknisi atau penyelamatdata.com yang masih bisa menghidupkannya kembali, minimal menarik data penting yang ada di dalamnya. Benar-benar hadiah tahun baru yang mengejutkan. Menambah satu poin dalam evaluasi 2007 saya: Lakukan BACKUP data secara berkala.

Sedih, kemarin saya seperti orang yang tak punya nyawa lagi, malas, lesu, jengkel, marah, sakit hati, merasa bodoh, terus bertanya-tanya “mengapa” … jadi agak rapuh.. :P

Hari ini sih sudah normal kembali :-)

BTW, SELAMAT TAHUN BARU 2008!

6 comments.

SD Kelas 1

Posted on November 2nd, 2007 by john.
Categories: General, stupid things.

Belakangan ini, di berbagai mailing list yang saya ikuti, ada posting mengenai tragisnya hubungan antara orang tua dan anak di Indonesia, yang menurut pengirim terwakili dengan gambar ini (dikutip tanpa izin, maaf sebelumnya):

SDKelas1

Tapi, bagi saya, soal itu yang salah kaprah.

  1. Soal-soal seperti ini yang membuat anak Indonesia bodoh. Sama sekali merugikan bagi anak itu, bisa membuat anak itu akhirnya cuma tahu menghafal saja, apalagi kalau si anak protes, gurunya tetap ngotot dan menyalahkan si anak. (Adakah anak kelas 1 yang protes nilai?)
  2. Dari segi interpretasi gambar ke-3 jawaban di nomer 2 itu jawaban A & B benar, apalagi kalau ternyata ayahnya adalah seorang cross-dresser, maka ke-3 jawaban (A-B-C) itu benar.
  3. Yang menjawab ini pasti anak-kota. Soalnya mana ada lagi sekarang ibu-ibu di kota pakai kebaya gituan di rumah? Kecuali ya si Mbok.. Apalagi rambutnya lebih mirip dikonde daripada dire-bonding.
  4. Bagi saya sebenarnya justru gambar itu adalah gambar seorang wanita ingin mematahkan leher si anak… jadi kata siapa ini tentang kasih sayang?? (sengaja 2 tanda-tanya!)

Anak SD kelas 1 kok disodori pertanyaan yang butuh interpretasi dan pemahaman seperti ini, udah gitu ambigu pula gambarnya. Mestinya menurut saya kalau anak SD harus disodori gambar, harus gambar ibu-anak yang familiar bagi mereka, contohnya mungkin gambar Marge & Bart Simpsons. Itu baru harus disalahkan kalau si anak masih pilih pembantu. Tapi itupun relatif, kalau si anak tidak pernah lihat serial The Simpsons gimana?

Kalau soal no. 1 atau 3 masih mending, tidak ada interpretasi, justru lebih menggunakan nalar.

Mari kita protes yang buat soalnya :-)

0 comments.